Kebakaran listrik berawal dari panas atau percikan pada instalasi dan peralatan listrik, lalu merambat ke bahan di sekitarnya. Penyebabnya hampir selalu dapat dikenali lebih awal: beban lebih, sambungan longgar, isolasi rusak, atau pengaman yang tidak berfungsi. Cara memadamkannya juga berbeda dari kebakaran biasa, karena selama sumber belum diputus, air dapat mencelakai pemadamnya.

Apa saja penyebab kebakaran listrik?

Penyebab Yang terjadi Contoh di lapangan
Beban lebih Arus melebihi kemampuan kabel, isolasi memanas Kotak kontak bertumpuk, penambahan mesin tanpa mengganti kabel
Sambungan longgar Hambatan kontak naik, timbul titik panas dan busur kecil Terminal tidak dikencangkan, sambungan puntir tanpa konektor
Hubung singkat Arus sangat besar dan bunga api Isolasi terkelupas, kabel terjepit, hewan pengerat
Arus bocor ke bumi Pemanasan pada jalur yang tidak semestinya Isolasi lembap dan menua
Pengaman tidak sesuai Gangguan tidak diputus Pengaman terlalu besar, dijumper, atau macet
Peralatan panas Menyalakan bahan di dekatnya Lampu, pemanas, pengisi daya di dekat kardus dan kain
Lingkungan Bahan mudah terbakar tersedia Debu, serbuk, uap pelarut, barang di ruang panel

Daftar kesalahan pemasangan yang melatarbelakanginya ada di artikel kesalahan umum instalasi listrik di pabrik.

Apa tanda awal yang harus diwaspadai?

  • pengaman sering jatuh tanpa sebab yang jelas;
  • kabel, steker, atau kotak kontak terasa hangat;
  • bau hangus atau bau plastik terbakar;
  • perubahan warna pada kabel, terminal, atau penutup panel;
  • bunyi dengung atau desis dari panel;
  • lampu berkedip saat beban besar menyala;
  • percikan saat steker dimasukkan.

Tanda-tanda ini harus dilaporkan dan ditindaklanjuti, bukan diatasi dengan mengganti pengaman yang lebih besar.

Kebakaran listrik termasuk golongan apa?

Permenakertrans No. PER.04/MEN/1980 menggolongkan kebakaran menjadi empat:

  • Golongan A: bahan padat kecuali logam, seperti kayu, kertas, dan kain;
  • Golongan B: bahan cair atau gas yang mudah terbakar;
  • Golongan C: instalasi listrik bertegangan;
  • Golongan D: logam.

Kata kuncinya adalah bertegangan. Setelah sumber listrik diputus, yang tersisa adalah kebakaran bahan yang terbakar itu sendiri, biasanya golongan A.

Media pemadam yang sesuai

Media Untuk kebakaran listrik bertegangan Catatan
Karbon dioksida Sesuai Tidak meninggalkan residu; kurang efektif di ruang terbuka berangin
Serbuk kimia kering Sesuai Efektif, tetapi serbuknya mengotori dan dapat merusak peralatan elektronik
Bahan bersih (clean agent) Sesuai Umum dipakai di ruang server dan ruang kontrol
Air dan busa Tidak sesuai selama bertegangan Menghantarkan listrik

Periksa selalu tanda golongan kebakaran pada label APAR. Jangan mengandalkan warna tabung.

Apa yang dilakukan saat terjadi kebakaran listrik?

  1. Bunyikan alarm dan beri tahu orang di sekitar.
  2. Putus sumber listrik bila dapat dilakukan dengan aman, dari pemutus di hulu, bukan dari peralatan yang terbakar.
  3. Padamkan dengan APAR yang sesuai hanya bila api masih kecil, jalur keluar ada di belakang Anda, dan Anda terlatih memakainya.
  4. Jaga jarak dari panel. Kebakaran pada panel bertegangan dapat disertai busur api. Lihat artikel arc flash.
  5. Tinggalkan lokasi bila api membesar, asap pekat, atau sumber tidak dapat diputus. Tutup pintu di belakang Anda.
  6. Hubungi regu penanggulangan kebakaran perusahaan dan dinas pemadam kebakaran.
  7. Jangan menyalakan kembali instalasi sebelum diperiksa petugas listrik.

Asap dari isolasi kabel yang terbakar beracun dan cepat memenuhi ruangan. Banyak korban kebakaran gedung bukan terkena api, melainkan menghirup asap.

Bagaimana mencegahnya?

Instalasi

  • Pilih kabel dan pengaman sesuai beban menurut PUIL 2011.
  • Pasang pengaman arus bocor pada sirkit yang memerlukannya.
  • Tutup tembusan kabel pada dinding dan lantai dengan penyekat api.
  • Gunakan peralatan dengan jenis proteksi yang sesuai di area berdebu atau beruap mudah terbakar.

Pemeliharaan

  • Kencangkan sambungan dan bersihkan panel secara terjadwal.
  • Lakukan pemeriksaan suhu sambungan, misalnya dengan kamera termal.
  • Ganti kabel dan perlengkapan yang rusak, bukan menambalnya.
  • Jalankan pemeriksaan dan pengujian berkala. Lihat artikel riksa uji instalasi listrik.

Tata tertib

  • Larang penyimpanan barang di ruang panel dan di depan panel.
  • Atur pemakaian kotak kontak tambahan dan pengisi daya.
  • Matikan peralatan yang tidak perlu di luar jam kerja.
  • Catat setiap penambahan beban.

Kesiapan

  • Tempatkan APAR yang sesuai di dekat ruang panel, di luar pintu.
  • Bentuk dan latih petugas penanggulangan kebakaran sesuai Kepmenaker No. KEP.186/MEN/1999.
  • Latih seluruh pekerja mengenali tanda awal dan cara melapor melalui kelas awareness keselamatan listrik.

Referensi

  • UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
  • Permenakertrans No. PER.04/MEN/1980 tentang Syarat-syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan
  • Kepmenaker No. KEP.186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja
  • Permenaker No. 12 Tahun 2015 tentang K3 Listrik di Tempat Kerja
  • PUIL 2011 (SNI 0225:2011)