Pelatihan electrical technician membekali orang yang tangannya langsung menyentuh instalasi: memasang kabel, merakit panel, mengukur, dan memperbaiki. Karena paling dekat dengan bagian bertegangan, teknisi adalah kelompok yang paling terpapar bahaya listrik. Pelatihan yang baik melatih keterampilan dan kebiasaan aman secara bersamaan, bukan sebagai dua pelajaran terpisah.

Untuk siapa pelatihan ini?

  • teknisi listrik di bagian maintenance pabrik dan gedung;
  • teknisi kontraktor instalasi;
  • lulusan SMK atau diploma kelistrikan yang baru bekerja;
  • teknisi mekanik yang mulai diberi tugas kelistrikan.

Bagi yang belum punya dasar sama sekali, lebih tepat memulai dari pelatihan teknisi listrik pemula.

Tanggung jawab K3 teknisi

Teknisi tidak merancang sistem, tetapi menentukan apakah rancangan itu terpasang dengan benar dan tetap aman.

  • memasang sesuai gambar dan standar, tidak mengubah ukuran kabel atau pengaman atas inisiatif sendiri;
  • menjalankan prosedur padam, kunci, uji, dan bumikan sebelum bekerja;
  • memakai dan merawat APD serta perkakas berisolasi;
  • memeriksa alat ukur sebelum dipakai;
  • tidak menjumper pengaman atau interlock;
  • melaporkan kondisi tidak aman dan menolak pekerjaan yang tidak terkendali;
  • mengembalikan penutup, label, dan pengaman setelah selesai.

Materi yang umumnya dipelajari

Kelompok Isi
Dasar Besaran listrik, sistem satu dan tiga fase, membaca diagram satu garis dan diagram kontrol
Pemasangan Penarikan dan terminasi kabel, pemasangan pengaman, penandaan, kerapian panel
Proteksi Fungsi MCB, MCCB, RCD, sekring, dan penghantar proteksi
Pengukuran Penguji tegangan, multimeter, tang ampere, penguji tahanan isolasi, earth tester
Pemeliharaan Pemeriksaan visual, pengencangan, pembersihan, pencarian gangguan
K3 Bahaya sengatan dan busur api, LOTO, izin kerja, APD, pertolongan pertama

Teknik mencari gangguan dibahas tersendiri di artikel troubleshooting dan maintenance kelistrikan.

Kebiasaan yang dilatih dalam praktik

Yang membedakan teknisi terlatih bukan seberapa cepat ia bekerja, melainkan langkah yang tidak pernah ia lewati:

  1. membaca gambar dan mengenali semua sumber sebelum membuka panel;
  2. menguji alat ukur pada sumber yang diketahui, mengukur, lalu menguji alat lagi;
  3. memasang gembok dan tanda milik sendiri, tidak menumpang gembok orang lain;
  4. mengencangkan terminal dengan torsi yang benar;
  5. menghitung perkakas sebelum menutup panel;
  6. menguji fungsi sebelum menyerahkan kembali ke operasi.

Langkah-langkah itu hanya menjadi kebiasaan bila diulang dalam latihan dengan pengawasan instruktur.

Hasil yang diharapkan

  • mampu memasang dan menyambung dengan rapi dan benar;
  • mampu mengukur dengan aman dan menafsirkan hasilnya;
  • mampu menjalankan LOTO tanpa dipandu;
  • mengenali tanda bahaya pada panel dan kabel;
  • tahu batas wewenangnya dan kapan harus meminta bantuan.

Sertifikasi yang relevan

  • Lisensi Teknisi K3 Listrik dari Kementerian Ketenagakerjaan, sesuai Permenaker No. 12 Tahun 2015. Persyaratannya dijelaskan di artikel syarat Teknisi K3 Listrik.
  • Sertifikat kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan di bawah Kementerian ESDM, yang umum diminta pada pekerjaan di lingkungan usaha ketenagalistrikan.

Keduanya berbeda fungsi. Pelatihan keterampilan umum tanpa uji kompetensi hanya menghasilkan sertifikat pelatihan dari penyelenggara, jadi pastikan apa yang Anda butuhkan sebelum memilih kelas.

Cara meminta kelas in-house

Perusahaan dengan banyak teknisi dapat meminta kelas di lokasi sendiri agar praktik memakai panel dan prosedur perusahaan. Informasi yang perlu disiapkan: jumlah peserta, tingkat pengalaman, jenis instalasi, ketersediaan area praktik yang aman, dan tujuan pelatihan. Ajukan lewat in-house training K3 listrik, atau pilih pelatihan Teknisi K3 Listrik bila sasarannya lisensi.

Referensi

  • Permenaker No. 12 Tahun 2015 tentang K3 Listrik di Tempat Kerja
  • PUIL 2011 (SNI 0225:2011)
  • UU No. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan